Bupati Kang Yoto : Bojonegoro Adalah Miniatur Kebhinekaan Indonesia
Bengawanpost.info, Bojonegoro – Untuk meningkatkan Wawasan Kebangsaan (Wasbang) para pelajar di Kabupaten Bojonegoro. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Bojonegoro mengadakan seminar dan dialog, di Gedung Pertemuan Dharma Wanita Kabupaten Bojonegoro, Jatim, Rabu (09/08/2017) pagi.
Dengan mengambil tema “Membangun Negeri Dengan Semangat Gotong Royong Tanpa Melihat Latar Belakang Perbedaan Yang Ada Demi Merajut Kebhinekaan Dalam Bingkai NKRI”, acara ini dibuka langsung Bupati Bojonegoro, Kang Yoto.
Dalam acara tersebut menghadirkan beberapa pembicara antara lain Letkol Inf M Herry Subagyo (Dandim 0813 Bojonegoro), Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Bojonegoro, OKP Komunitas Pemuda Lintas Agama, dan Gus Sholahudin dari Praktisi Agamis.
“Peserta kegiatan ini adalah generasi muda lintas agama yang ada di Kabupaten Bojonegoro. Mereka akan diberikan referensi tentang nasionalisme dan ketrampilan hidup yang harus dimiliki generasi Bojonegoro,” ujar Kepala Bakesbangpol Kabupaten Bojonegoro, Kusbiyanto dalam laporannya.
Lebih lanjut Kusbiyanto mengajak kepada generasi muda dan semua fihak untuk saling menjaga dan menghormati keberagaman Bangsa Indonesia. Apalagi Bojonegoro telah menjadi Kabupaten OGP dan Kabupaten Welas Asih.
Masih dalam kesempatan ini, Warsito perwakilan dari Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bojonegoro mengingatkan kepada seluruh peserta agar menanamkan budaya gotong royong dan kerja bakti. Karena budaya ini adalah warisan leluhur yang sangat baik yang harus dijaga dan dilestarikan.
“Contoh budaya gotong royong dan kerja bhakti ini harus bisa diterapkan di jenjang sekolah. Yakni tolong menolong, dan mengerjakan tugas piket bersama seperti menyapu sebagai bentuk sederhana menerapkan budaya gotong royong,” ungkap Warsito.
Sementara itu, Bupati Bojonegoro Kang Yoto dihadapan peserta menuturkan, bahwa paradigma yang terjadi dari masa ke masa, mulai masa kecil sampai masa remaja di bangku perkuliahan bagi beliau pribadi telah mengubah cara pandang. Ditambah lagi kesempatan bertemu dengan beberapa tokoh penting di negeri ini membuat wawasan dan pengetahuan semakin luas.
“Waktu awal masa kuliah, pandangan saya tentang pemerintah demikian sempit dan cenderung negative. Namun seiring waktu dan banyaknya pergaulan dengan banyak tokoh membuat pandangan terhadap pemerintah lambat laun berubah menjadi semakin luas, karena melihat pemerintahan itu dari berbagai sisi,” tutur Kang Yoto.
Kang Yoto.menambahkan bahwa beliau pernah menjadi politikus dan aparatur pemerintah. Menjadi Ini itu, adalah proses yang harus dilakukan secara terus menerus. Para pendiri bangsa kita menyadari betul bahwa Indonesia secara harfiah tanah dan tempat berpijak sudah ada. Namun jiwa atau ruh bangsa Indonesia harus senantiasa dibangun.
“Untuk mewujudkan cita – cita menjadi indonesia adalah yang pertama menerima kebhinekaan, lalu kesanggupan menerima kepahitan masa lalu dan menjadi lebih baik dimasa depan, kesanggupan untuk menjaga Indonesia, serta meluaskan hati juga jiwa,” tambah Kang Yoto.
Bojonegoro adalah miniatur keragaman Indonesia , lanjut Kang Yoto menyampaikan, bahwa salah satunya bisa ditemukan di Desa Pajeng Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro. Mereka menjalankan nilai gotong royong. Bahkan di Desa ini mampu swadaya membangun gedung sekolah.
Menurutnya, hal penting yang bisa kita pelajari dari Desa pajeng adalah adanya loyalitas primer dan sekunder yang terjaga tanpa memandang agama dan faham. Semuanya saling mengerti dan memahami masing – masing peran dan tanggung jawabnya.
“Kunci suksesnya pembangunan itu, jika ada ruang publik saling mendengar dan mau menerima sehingga saling melengkapi. Karena dengan menerima cara pandang yang berbeda inilah akan menjadi modal sosial yang sangat kuat dalam menentukan kesuksesan suatu pembangunan,” pungkas Kang Yoto akhiri sambutan pembukaannya. *[Bp]



